GemilangPay

Panduan reseller

Risiko kurs won bagi reseller: buffer, stok, dan kapan menaikkan harga

Reseller produk Korea menanggung risiko kurs sejak harga disepakati sampai barang terakhir terjual. Risiko ini tidak bisa dihapus, tetapi bisa diukur dan dimasukkan ke dalam harga dengan tertib.

Disusun redaksi GemilangPay · revisi terakhir 28 September 2026

Rel roller coaster berliku naik turun di bawah langit mendung
Kurs won terhadap rupiah naik turun lebih sering daripada yang terasa dari satu transaksi ke transaksi berikutnya.

Kenapa kurs won ke rupiah bergerak dua kali lipat rumitnya

Won dan rupiah sama-sama lebih banyak diperdagangkan terhadap dolar AS daripada satu sama lain. Kurs won–rupiah yang Anda lihat pada dasarnya adalah hasil bagi dua kurs dolar: berapa rupiah untuk satu dolar, dan berapa won untuk satu dolar. Misalnya won diam di tempat tetapi rupiah terpeleset terhadap dolar: barang Korea otomatis terasa lebih mahal. Bila keduanya sama-sama tergelincir, efeknya bisa saling meredam. Tahun 2026 ini rupiah bahkan pernah terdorong melewati level 17.000 per dolar AS, dan tekanan semacam itu ikut mengerek harga barang Korea dalam rupiah.

Seberapa jauh kurs bisa bergerak

Rupiah per won menurut data referensi ECB (disajikan Frankfurter)
Tanggal dataRupiah per won
30 Juni 202112,88
31 Desember 202111,96
30 Juni 202211,51
30 Desember 202212,29
25 September 202613,22

Dari pertengahan 2021 ke akhir 2021 saja, kurs turun sekitar 7 persen. Dari pertengahan 2022 ke data September 2026, kurs naik sekitar 15 persen. Untuk reseller, angka persentase inilah yang penting, karena langsung mengubah modal barang dengan persentase yang sama.

Dampaknya pada satu pesanan

Ambil pesanan skincare senilai 3.032.000 won dari contoh modal impor. Nilai barangnya dalam rupiah pada beberapa tingkat kurs:

Nilai barang pada berbagai kurs (sebelum ongkir dan pungutan)
Kurs per wonPesanan 3.032.000 wonSatu toner 8.500 won
Rp11,50Rp34.868.000Rp97.750
Rp12,30Rp37.293.600Rp104.550
Rp13,20Rp40.022.400Rp112.200
Rp14,00Rp42.448.000Rp119.000
Rp14,50Rp43.964.000Rp123.250

Selisih antara baris teratas dan terbawah lebih dari Rp9 juta untuk pesanan yang sama. Karena pungutan impor dihitung dari nilai yang sudah dirupiahkan, kenaikan kurs juga menaikkan bea masuk dan pajak.

Di mana risiko itu muncul

  1. Saat harga disepakati — Anda menghitung dengan kurs hari itu.
  2. Saat membayar uang muka dan pelunasan — kurs bank pada hari pembayaran yang berlaku.
  3. Saat barang tiba — pungutan memakai kurs mingguan versi Kementerian Keuangan.
  4. Saat stok terjual — harga jual Anda harus cukup untuk membeli ulang stok yang sama dengan kurs saat itu.

Poin keempat paling sering dilupakan. Jika Anda menjual habis stok dengan harga lama tetapi kurs sudah naik, uang hasil penjualan tidak cukup untuk memesan jumlah yang sama.

Lima kebiasaan untuk menjaga margin

1. Hitung modal dengan kurs cadangan

Alih-alih memakai kurs hari ini, pakai kurs beberapa persen lebih tinggi saat menyusun harga pokok. Cadangan ini sekaligus menambal selisih antara titik tengah dan harga jual bank.

2. Tetapkan aturan revisi harga

Tentukan di awal: jika kurs acuan bergeser lebih dari, misalnya, 3 persen dari kurs yang dipakai di harga pokok, daftar harga ditinjau ulang. Aturan tertulis mencegah keputusan yang terburu-buru atau justru terlambat.

3. Jaga perputaran stok

Semakin lama stok tersimpan, semakin besar peluang kurs bergerak sebelum Anda sempat membeli ulang. Pesan dalam jumlah yang sesuai dengan kecepatan penjualan, bukan sekadar mengejar potongan harga grosir.

4. Catat kurs nyata setiap pembayaran

Simpan tanggal, jumlah won, jumlah rupiah yang terdebet, dan kurs efektifnya. Dari catatan ini Anda tahu berapa selisih rata-rata antara kurs acuan dan kurs yang sungguh Anda peroleh.

5. Pahami aturan pembelian valas

Mulai 1 Juli 2026, Bank Indonesia menurunkan plafon pembelian uang kertas asing tanpa underlying menjadi setara US$10.000 sebulan untuk tiap pelaku (PADG No. 15/2026). Pada tanggal yang sama berlaku pula kewajiban melampirkan underlying untuk kiriman valas ke luar negeri yang nilainya melebihi setara US$25.000 (PADG No. 13/2026). Jadi, simpan faktur pemasok atau kontrak pembelian sejak awal agar pembayaran besar tidak tertahan.

Contoh aturan revisi harga

Misalkan harga pokok disusun pada kurs acuan Rp13,20 dengan cadangan 4 persen, sehingga hitungannya memakai Rp13,73 per won. Aturan revisi ditetapkan pada pergeseran 3 persen dari kurs acuan awal. Artinya, daftar harga ditinjau ulang bila kurs acuan melewati Rp13,60 atau turun di bawah Rp12,80.

Contoh pemicu tinjauan harga
Kondisi kurs acuanTindakan
Rp12,80 – Rp13,60Harga tetap; cadangan 4 persen masih melindungi margin.
Di atas Rp13,60Hitung ulang modal untuk pesanan berikutnya; naikkan harga produk yang marginnya paling tipis lebih dulu.
Di bawah Rp12,80Harga boleh tetap sebagai tambahan margin, atau dipakai untuk promosi terbatas yang terukur.

Angka 3 dan 4 persen hanya contoh. Pilih angka yang sesuai dengan kecepatan perputaran stok dan kebiasaan pasar Anda, lalu tulis dan patuhi.

Panduan ini bukan ajakan menebak arah kurs. Menunda pembayaran atau membeli won jauh di depan demi mengejar kurs lebih baik adalah spekulasi yang bisa berbalik merugikan. Fokuskan tenaga pada hal yang bisa dikendalikan: harga pokok, cadangan, dan perputaran stok.

Setelah memahami risikonya, periksa kembali cara menetapkan harga jual, atau lihat nilai nota terbaru di tabel 100 ribu–750 ribu won.